Hari Santri 2026: Zainal Ilmi Dorong Santri Jadi Subjek Pembangunan, Perkuat Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045

Lensa Kalimantan
, 10/23/2026 08:29:00 AM WIB Last Updated 2026-10-23T01:33:16Z
---

 

“Dari Pesantren Menguatkan Negeri, dari Santri Menggerakkan Masa Depan”


BANJARBARU, 22 Oktober 2026, — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran santri sebagai penggerak pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. 


Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, santri diharapkan tidak lagi sekadar menjadi objek pendidikan, tetapi tampil sebagai subjek yang aktif melahirkan gagasan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat.


Hal tersebut menjadi sorotan Dr. H. Zainal Ilmi, M.Pd.I., Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian (Karo AUPKK) UIN Antasari Banjarmasin sekaligus Ketua PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Selatan, dalam momentum Hari Santri di lingkungan UIN Antasari Banjarmasin, Kamis (22/10/2026).


Menurutnya, santri masa kini harus mampu memadukan kedalaman ilmu agama, akhlak, wawasan kebangsaan, penguasaan teknologi, dan kemandirian agar mampu menjawab tantangan zaman.


“Santri hari ini tidak boleh hanya menjadi objek pendidikan dan pembangunan. Santri harus tampil sebagai subjek, sebagai pelaku perubahan yang memiliki gagasan, kompetensi, kemandirian, dan keberanian mengambil peran strategis dalam membangun negeri,” ungkapnya.


Ia menambahkan, santri perlu menjaga tradisi keilmuan sekaligus mengembangkan inovasi agar mampu berkontribusi dalam pendidikan, ekonomi, teknologi, pelayanan publik, dan pemberdayaan masyarakat.


“Kita ingin santri tidak hanya mampu membaca kitab, tetapi juga membaca realitas sosial. Tidak hanya memahami tradisi, tetapi juga mengembangkan inovasi untuk menjawab tantangan zaman,” tambahnya.



Selain penguatan kapasitas santri, Zainal menyoroti dua isu penting, yakni pemberdayaan pesantren dan akurasi data. Menurutnya, pesantren membutuhkan dukungan berkelanjutan melalui peningkatan mutu pendidikan, pengembangan kompetensi tenaga pendidik, penguatan sarana prasarana, serta perluasan akses teknologi dan kemitraan.


Pengembangan kewirausahaan santri atau santripreneur juga menjadi peluang untuk mendorong kemandirian ekonomi pesantren melalui usaha produktif yang sesuai dengan potensi lokal.


“Pemberdayaan pesantren tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Yang dibutuhkan adalah penguatan kapasitas, pendampingan berkelanjutan, dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi santri serta masyarakat,” tegasnya.


Di sisi lain, akurasi data pesantren menjadi fondasi penting dalam menyusun kebijakan, menyalurkan bantuan, dan memetakan kebutuhan secara tepat sasaran. Data yang valid dan mutakhir juga diperlukan untuk memperkuat tata kelola serta akuntabilitas kelembagaan.


“Data pesantren bukan sekadar angka dalam laporan administrasi. Di baliknya ada lembaga pendidikan, para kiai, ustaz, santri, dan masyarakat. Karena itu, data yang akurat menjadi kunci agar program pemberdayaan benar-benar sesuai kebutuhan,” ujarnya.


Transformasi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi pesantren. Digitalisasi kitab kuning, perpustakaan daring, pembelajaran digital, dan pemanfaatan kecerdasan buatan dapat memperluas akses pengetahuan. Namun, penyebaran hoaks, informasi keagamaan yang tidak terverifikasi, perundungan siber, kecanduan gawai, serta kesenjangan literasi digital perlu diantisipasi.


Zainal menilai, penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan adab, kemampuan memverifikasi informasi, dan tanggung jawab dalam bermedia.


“Santri harus mampu memanfaatkan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Tradisi pesantren bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi untuk membentuk generasi yang kritis, berakhlak, dan bertanggung jawab,” tuturnya.


Karena itu, digitalisasi perlu disertai peningkatan kompetensi pengajar, pendampingan pengelolaan teknologi, dan penguatan literasi digital tanpa menghilangkan nilai-nilai kepesantrenan, termasuk tradisi sorogan, bandongan, dan penghormatan kepada guru.


Sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam, UIN Antasari Banjarmasin memiliki peluang strategis untuk memperkuat kolaborasi dengan pesantren melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan sumber daya manusia. Sementara itu, PW ISNU Kalimantan Selatan dapat berkontribusi melalui jejaring akademisi, profesional, dan praktisi untuk mendukung pemberdayaan pesantren.


Menurut Zainal, sinergi antarlembaga perlu diarahkan pada program yang terukur dan berkelanjutan, mulai dari penguatan tata kelola, literasi digital, kewirausahaan, hingga pengembangan inovasi berbasis kebutuhan pesantren.


“Indonesia Emas 2045 harus dipersiapkan sejak sekarang melalui pendidikan yang bermutu, pesantren yang berdaya, tata kelola yang baik, dan santri yang berani berkarya. Santri harus berakar kuat pada nilai agama dan tradisi, tetapi memiliki cakrawala luas untuk mengambil bagian dalam kemajuan bangsa,” ungkapnya.


Ia berharap, Hari Santri 2026 tidak sekadar menjadi peringatan sejarah perjuangan ulama dan santri, tetapi juga momentum memperkuat kontribusi nyata pesantren bagi pembangunan daerah dan nasional.


Dengan penguatan kapasitas santri, pemberdayaan pesantren, akurasi data, serta kesiapan menghadapi transformasi digital, santri diharapkan menjadi generasi yang mandiri, berintegritas, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.


“Berakar pada Tradisi, Unggul dalam Inovasi, Mengabdi untuk Negeri.”

Komentar

Tampilkan

Terkini