BANJARMASIN, – Suasana rapat Panitia Khusus (Pansus) Pengawasan Distribusi BBM Bersubsidi DPRD Kalimantan Selatan pada Rabu (3/6/2026) di Ruang Rapat Komisi III berlangsung panas ketika Ketua LSM Sahabat Anti Kecurangan Bersatu (SAKUTU), Aliansyah, melontarkan tantangan terbuka kepada anggota dewan. Ia meminta Pansus membuktikan keseriusannya dalam mengusut dugaan praktik mafia BBM bersubsidi yang selama ini disebut merugikan masyarakat.
Dalam forum yang dipimpin Ketua Pansus H. M. Syaripuddin, Aliansyah menilai masyarakat sudah terlalu lama menjadi korban persoalan distribusi BBM bersubsidi yang diduga melibatkan sejumlah pihak tertentu. Karena itu, ia menegaskan bahwa keberadaan Pansus tidak boleh berhenti hanya pada pembahasan, kajian, maupun rekomendasi tanpa tindakan nyata.
Menurut Aliansyah, publik saat ini menunggu langkah konkret untuk mengungkap pihak-pihak yang diduga berada di balik berbagai persoalan distribusi BBM bersubsidi di Kalimantan Selatan.
“Kalau Pansus ini memang serius, jangan hanya bicara pengawasan. Bongkar satu saja mafia BBM di Kalimantan Selatan. Saya siap serahkan bukti yang kuat,” tegas Aliansyah dalam rapat yang digelar Rabu (3/6/2026).
Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian para peserta rapat. Aliansyah mengungkapkan bahwa selama ini pihaknya menerima berbagai laporan dan informasi dari masyarakat terkait dugaan penyimpangan dalam penyaluran BBM bersubsidi.
Ia menilai fenomena kelangkaan BBM, antrean kendaraan yang panjang di sejumlah titik, hingga dugaan penyalahgunaan subsidi tidak semata-mata disebabkan faktor teknis. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya praktik yang perlu ditelusuri secara menyeluruh.
Tak hanya itu, Aliansyah juga mengaku terdapat dugaan intimidasi terhadap sejumlah pihak yang berupaya menyuarakan persoalan distribusi BBM bersubsidi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan menghentikan pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sipil.
“Kami tidak takut. Kalau memang ingin membersihkan persoalan BBM di Banua, jangan setengah-setengah. Rakyat sudah terlalu lama dirugikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Aliansyah turut menyoroti aktivitas kendaraan tangki berkapasitas besar yang disebut kerap keluar masuk kawasan Basirih. Ia meminta Pansus melakukan penelusuran dan investigasi lebih mendalam terhadap aktivitas tersebut guna memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam distribusi BBM bersubsidi.
Menanggapi tantangan tersebut, Ketua Pansus H. M. Syaripuddin yang akrab disapa Bang Dhin menegaskan bahwa setiap informasi yang diterima harus melalui tahapan verifikasi dan kajian sesuai mekanisme hukum yang berlaku.
Ia menekankan bahwa Pansus tidak dapat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan dugaan atau asumsi. Seluruh proses, menurutnya, harus didukung data, fakta, serta alat bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Di sisi lain, Aliansyah berpandangan masyarakat kini tidak lagi membutuhkan sekadar janji maupun pembahasan berkepanjangan. Baginya, yang ditunggu publik adalah keberanian untuk mengungkap aktor-aktor yang selama ini diduga bermain dalam tata kelola distribusi BBM bersubsidi.
“Jangan sampai Pansus ini hanya menjadi formalitas politik yang ramai di awal tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Kalau memang berpihak kepada rakyat, buktikan dengan tindakan nyata,” tandasnya.
Pernyataan tegas tersebut menjadi salah satu sorotan utama dalam rapat Pansus Pengawasan Distribusi BBM Bersubsidi DPRD Kalimantan Selatan. Saat ini, Pansus masih menghimpun berbagai keterangan, masukan, serta informasi dari berbagai pihak terkait persoalan distribusi BBM bersubsidi di daerah.
Masyarakat pun menantikan langkah lanjutan yang akan diambil, termasuk kemungkinan tindak lanjut atas tantangan dan informasi yang disampaikan dalam forum tersebut.
Sorotan terhadap persoalan distribusi BBM bersubsidi di Kalimantan Selatan juga mencuat di media sosial. Salah satunya melalui unggahan TikTok influencer Babe Aldo yang membagikan pesan suara dari seorang warga terkait kondisi sejumlah SPBU di wilayah Gambut.
Dalam unggahan tersebut, Babe Aldo membuka videonya dengan mengatakan, “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Gua dapat kiriman begini nih.”
Selanjutnya diperdengarkan rekaman suara seorang warga yang menyampaikan laporan mengenai kondisi sejumlah SPBU di kawasan Gambut.
“Assalamualaikum. Untuk hari ini, SPBU diseberang Pasar Gambut, SPBU diseberang Polsek Gambut, Pal 17, terus SPBU dekat Bundaran Pal 20 di Liang Anggang Pal 19, sama SPBU diseberang Sambang Lihum. SPBU hari ini dikuasai pelangsir suruhan mafia solar,” ujar suara dalam rekaman tersebut.
Masih dalam pesan suara yang sama, warga tersebut juga mengeluhkan kesulitan memperoleh BBM untuk kebutuhan operasional sehari-hari.
“Kasian buhan kami yang mencari minyak, karena kada kulihan di mana-mana habis minyaknya. Kadang-kadang dibatasi belinya Rp200 ribu sebuah motor. Mayu kemana kami Rp200 ribu?” keluhnya.
Rekaman suara itu kemudian ditutup dengan pernyataan, “Hari ini Sabtu tanggal 30 di Gambut. Langsiran main pulang langsiran itu infonya.”
Namun demikian, informasi yang beredar melalui media sosial tersebut masih berupa laporan dan keluhan warga yang belum dapat diverifikasi secara independen oleh redaksi. Meski begitu, unggahan tersebut turut menambah perhatian publik terhadap persoalan distribusi BBM bersubsidi yang saat ini menjadi pembahasan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kalimantan Selatan.(red)


