BATOLA, 13 September 2026 — Sekitar 5.000-an, jamaah laki-laki dan perempuan memadati Majelis Ilmu dan Dzikir THOHA 77, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, Minggu (13/9/2026).
Mereka datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Batola hingga sejumlah daerah di luar kabupaten untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi.
Mengusung tema “Meneladani Akhlak dan Meningkatkan Cinta kepada Rasulullah SAW”, kegiatan tersebut digelar mulai pukul 08.00 Wita di Majelis Ilmu dan Dzikir THOHA 77, Jalan Ray 5, Desa Panca Karya RT 05, Kecamatan Alalak, Kabupaten Batola.
Peringatan Maulid Nabi tersebut sekaligus menjadi pelaksanaan yang ke-8 di majelis yang dipimpin Habib Jafar Ali Al Qadrie.
Untuk memberikan tausiah, panitia menghadirkan Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman (serta Pondok Pesantren Az-Zahir) yang terletak di Kecamatan Krejengan, juga pimpinan Majelis Ahbaabul Musthofa Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Suasana majelis berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Ribuan jamaah mengikuti rangkaian kegiatan dengan pembacaan sholawat, dzikir, doa, dan tausiah keagamaan.
Sejumlah pejabat, ulama, habaib, dan tokoh masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya perwakilan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Hasnuryadi Sulaiman, M.A.B., Bupati Batola Drs. H. Bahrul Ilmi, S.H., M.H., Irjen Pol. Rusyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., Brigjen TNI Ilham Yunus, S.Sos., M.Si., serta perwakilan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Selatan Drs. H. Muhammad Tambrin, M.Pd.
Hadir pula sejumlah ulama dan tokoh agama, seperti KH. Muhammad Qomaruddin atau Guru Busu, Guru Mahmud Al Banjari, dan Drs. KH. M. Ilyas, M.Ag.
Adapun tamu kehormatan dari Trengganu, Malaysia, Dato Abdul Wahab bin Abdullah, berhalangan hadir karena terganggunya jalur penerbangan.
Habib Hasan Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah
Dalam tausiyahnya, Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor mengajak jamaah menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum untuk semakin mencintai Rasulullah dan menerapkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW serta senantiasa mencintai ulama dan para guru.
“Marilah kita selalu mencintai ulama dan Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan dengan kecintaan itu, kita mendapatkan rahmat Allah dan termasuk umat yang dicintai Nabi Muhammad SAW,” kata Habib Hasan.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus dibuktikan melalui perilaku. Umat Islam hendaknya meneladani sifat Nabi Muhammad SAW yang sabar, pemaaf, dan senantiasa bertakwa kepada Allah SWT.
“Pesan saya, mari kita teladani sifat Nabi Muhammad SAW yang sabar dan pemaaf. Jangan mudah marah dan hendaknya kita selalu bertakwa kepada Allah SWT,” ujarnya.
Habib Hasan kemudian menyampaikan kisah keteladanan Imam Syafi’i untuk menggambarkan pentingnya kesabaran.
Ia mengisahkan seorang tukang cukur yang saat itu sedang mencukur rambut Imam Syafi’i. Meski pekerjaan mencukur belum selesai, Imam Syafi’i tetap bersabar dan tidak memarahi tukang cukur tersebut.
Kesabaran Imam Syafi’i itu kemudian menjadi jalan datangnya rezeki bagi sang tukang cukur.
Menurut Habib Hasan, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa kesabaran merupakan bagian dari akhlak mulia yang perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengajak jamaah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan memohon rahmat Allah SWT.
“Mari kita perbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan memohon rahmat Allah SWT. Mudah-mudahan Allah menurunkan hujan sebagai rahmat dan keberkahan bagi kita semua,” tutur Habib Hasan.
Ia berharap momentum Maulid Nabi tersebut semakin memperkuat kecintaan jamaah kepada Rasulullah SAW.
“Mudah-mudahan kita semua semakin mencintai Nabi Muhammad SAW dan mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dicintai oleh beliau,” katanya.
Guru Busu: Akhlak Nabi Hendaknya Ada dalam Diri Kita
Sementara itu, KH. Muhammad Qomaruddin atau Guru Busu mengingatkan jamaah mengenai besarnya nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada manusia.
Menurut Guru Busu, manusia diciptakan Allah SWT dengan berbagai kenikmatan, termasuk nikmat kehidupan dan kesehatan yang harus senantiasa disyukuri.
“Manusia telah diciptakan Allah SWT dan diberikan begitu banyak nikmat. Nikmat itu sangat luar biasa. Hidup dan sehat adalah karunia yang harus kita syukuri,” ujar Guru Busu.
Ia mengajak jamaah tidak terlena dengan berbagai nikmat tersebut. Sebaliknya, nikmat kehidupan dan kesehatan harus menjadi dorongan untuk semakin dekat kepada Allah SWT serta meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Guru Busu juga mengingatkan bahwa rasa syukur merupakan salah satu bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Berterima kasih kepada Nabi Muhammad SAW kita wujudkan dengan bersyukur kepada Allah dan berusaha meneladani akhlak beliau,” katanya.
Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus tercermin dalam perilaku dan akhlak sehari-hari.
“Akhlak Nabi Muhammad SAW hendaknya ada pada diri kita. Karena Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama dalam akhlak,” ujar Guru Busu.
Habib Hasan Apresiasi Ukhuwah Jamaah
Usai rangkaian acara, Habib Hasan kembali menyampaikan apresiasinya terhadap suasana Maulid Nabi di Majelis Ilmu dan Dzikir THOHA 77.
Ia menilai, kebersamaan ribuan jamaah, para ulama, habaib, guru, dan tokoh masyarakat menjadi salah satu keindahan yang sangat terasa selama kegiatan berlangsung.
“Alhamdulillah, kita berada di majelis yang penuh dengan keindahan kebersamaan dan keindahan ukhuwah persaudaraan. Terlihat bagaimana para guru, tokoh, habaib, dan umat saling menghormati. Jamaah juga begitu antusias mendengarkan ceramah dan bersholawat,” ujar Habib Hasan.
Menurutnya, banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari pelaksanaan Maulid Nabi tersebut. Salah satunya adalah kuatnya ukhuwah antara para guru, ulama, habaib, dan masyarakat.
“Banyak hal indah yang bisa kita ambil dari majelis ini. Yang sangat nampak adalah ukhuwah persaudaraan antara para guru, ulama dan habaib, serta begitu hausnya umat terhadap ilmu dan cinta Nabi SAW,” katanya.
Habib Hasan menilai, kecintaan kepada Rasulullah SAW menjadi salah satu kunci yang mampu menghadirkan suasana saling mencintai, menghormati, serta membangkitkan semangat umat untuk menuntut ilmu dan meningkatkan ketaatan.
“Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa Nabi SAW adalah kunci untuk semua keindahan ini. Lewat Nabi, kita bisa saling mencintai dan saling menghormati. Lewat Nabi pula kita bisa membangkitkan semangat mengaji dan membangkitkan semangat untuk taat,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan Maulid Nabi di Majelis Ilmu dan Dzikir THOHA 77 terus berkembang dan menjadi tempat yang semakin makmur dengan ilmu serta dakwah.
“Insya Allah, acara Maulid Nabi ini menjadi acara yang berkah. Mudah-mudahan ke depan semakin berkah dan tempat ini menjadi tempat yang makmur dengan ilmu dan dakwah,” ujarnya.
Doakan Habib Jafar dan Ajak Jamaah Istiqamah Mengaji
Habib Hasan juga secara khusus mendoakan Habib Jafar Ali Al Qadrie selaku pimpinan Majelis Ilmu dan Dzikir THOHA 77 agar senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan dakwah.
“Untuk Habib Jafar, Masya Allah. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan kesehatan, menambah semangat dakwahnya, menambah keberkahan ilmunya, dan menambah kesabarannya dalam membina umat Nabi SAW. Semoga sukses, berkah, dan selalu dicintai oleh umat,” kata Habib Hasan.
Kepada jamaah dan masyarakat yang telah menunjukkan antusiasme dalam menghadiri Maulid Nabi, ia berpesan agar kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti setelah acara selesai.
“Terus tanamkan cinta kepada Nabi, cinta kepada ulama, dan cinta kepada guru. Sibukkan diri dengan mengaji, berdzikir, dan menghadiri majelis-majelis ilmu,” pesannya.
Habib Hasan juga mengingatkan jamaah agar menjaga mata dan telinga dari berbagai hal yang tidak bermanfaat.
“Selamatkan telinga dan mata kita dari hal-hal yang tidak kita perlukan. Manfaatkan waktu kita untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah, untuk mengaji, berdzikir, dan menghadiri majelis ilmu,” ujarnya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ke-8 di Majelis Ilmu dan Dzikir THOHA 77 akhirnya tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah, menumbuhkan kecintaan kepada Nabi dan ulama, serta mengajak umat menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Kesabaran, sikap pemaaf, ketakwaan, rasa syukur, kecintaan terhadap ilmu, dan semangat berdakwah menjadi pesan utama yang diharapkan terus hidup di tengah jamaah setelah majelis berakhir.(@dw)


