SERANG BANTEN, - Di sela-sela Acara Deklarasi Boboko Kolot Distrik Banten, Minggu (28/6/2026), Ketua Distrik Banten Terpilih Kang Asepudin menegaskan komitmen komunitasnya menjaga nilai-nilai budaya Sunda.
Komitmen itu disampaikan menanggapi serangkaian pertanyaan terkait maksud, tujuan, visi-misi, serta peran Boboko Bobotoh Kolot bagi masyarakat dan generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi suporter sepakbola.
Berawal dari Keresahan di Stadion Siliwangi
Kang Asep menjelaskan, Boboko berdiri pada 10 Desember 2025 sebagai wadah memfasilitasi Bobotoh senior atau "Bobotoh Kolot" dari era 1970-an, 1980-an, dan 1990-an yang dikenal sebagai Alumni Stadion Siliwangi.
"Boboko lebih mengutamakan member yang sudah berpikiran dewasa, bijak, bermartabat, dan berbudaya. Yaitu Budaya Sunda dengan filosofi Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh," ujar Kang Asep.
Ia menilai derasnya modernisasi dan budaya Barat membuat nilai lokal di stadion mulai luntur. "Sebagai orang Sunda, kita jangan lupa punya budaya yang harus dijaga dan dilestarikan, terutama untuk generasi muda. Saya juga melihat suasana di media sosial sudah tidak kondusif antar pendukung," jelasnya.
'Kolot' Artinya Dewasa, Bukan Tua
Menurut Kang Asep, kata "Kolot" dalam nama komunitas merujuk pada kedewasaan berpikir, bukan usia lanjut. "Kolot di sini artinya yang sudah mempunyai pemikiran dewasa dan bijak dalam mendukung tim Persib Bandung," tegasnya.
Boboko membuka keanggotaan bagi Bobotoh berusia 35 tahun ke atas. Target jangka panjangnya adalah menjadi rumah silaturahmi suporter lintas generasi. "Kami ingin mempersatukan seluruh suporter di Indonesia. Sejatinya sepakbola adalah alat pemersatu bangsa," kata Kang Asep.
Aksi Nyata: Dari Kopdar hingga Satgas Jaga Lembur
Sejumlah kegiatan telah dijalankan Boboko untuk menerjemahkan visi-misi, antara lain:
1.Kopdar rutin sebagai ruang silaturahmi antar anggota.
2.Kegiatan sosial seperti donor darah dan santunan anak yatim.
3.Kolaborasi dengan Polda Jabar sebagai bagian dari Satgas Jaga Lembur saat laga terakhir Persib dan konvoi perayaan juara.
"Boboko membawa marwah budaya Sunda. Kami ingin visi-misi ini tidak berhenti di internal, tapi berdampak ke masyarakat luas di luar stadion," ujarnya.
Menggaet Generasi Muda, Mencegah 'Bobotoh Musiman'
Menjawab tantangan merekrut anak muda, Kang Asep menyebut Boboko menyiapkan program kaderisasi. "Nilai yang paling wajib ditransfer adalah Silih Asih dan Gotong Royong. Setia dan militan mudah diucap, tapi rasa kekeluargaan inilah yang harus dijaga," pungkasnya.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak memandang Boboko sebagai komunitas eksklusif. "Boboko adalah rumah. Pintunya selalu dibuka untuk anak incu. Karena tanpa generasi muda, seuneu Bobotoh bisa padam saat kami sudah tidak ada lagi di tribun," tutup Kang Asep.


