Banjarbaru, Jumat, 31 Juli 2026, — Setiap hari, ribuan penumpang datang dan pergi melalui Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Nama itu begitu akrab di telinga masyarakat. Namun, tidak banyak yang benar-benar mengenal sosok di balik nama besar tersebut.
Ia bukan sekadar nama sebuah bandara atau pangkalan udara. Ia adalah seorang putra Banua yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi Republik Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.
Namanya adalah Kapten Udara (Anumerta) Muhammad Syamsuddin Noor, seorang penerbang muda yang gugur dalam tugas ketika usianya baru menginjak 26 tahun.
Tahun ini, tepat 78 tahun sejak kepergiannya, bangsa Indonesia kembali diingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan di medan perang, tetapi juga di langit Nusantara oleh para penerbang yang mempertaruhkan nyawanya demi menjaga kedaulatan negara yang baru lahir.
Muhammad Syamsuddin Noor lahir di Alabio, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, pada 5 November 1924. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara pasangan H. Abdul Ghaffar Noor, seorang tokoh pemerintahan pada zamannya, dan Hj. Putri Ratna Willis, putri Pangeran H. Amir Husin Kusuma, Raja terakhir Pulau Laut.
Sejak kecil, Syamsuddin dikenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki semangat belajar tinggi. Pendidikan dasarnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Batavia pada 1932. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke MULO Bogor, sebelum menyelesaikan sekolah di AMS Yogyakarta pada 1945.
Saat banyak pemuda seusianya masih mencari arah hidup, Syamsuddin telah menentukan pilihan yang jauh lebih besar: mengabdi kepada bangsa yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Ia memilih dunia kemiliteran, bergabung dalam pendidikan di Militarie Academie Yogyakarta, kemudian memperdalam ilmu penerbangan hingga menjadi salah satu calon pilot terbaik yang dimiliki Indonesia saat itu.
Semangat belajarnya bahkan membawanya ke luar negeri. Antara tahun 1947 hingga 1950, ia mengikuti pendidikan dan latihan penerbangan di India dan Burma.
Di negeri yang kini bernama Myanmar itu, ia dipercaya menjadi pilot Indonesian Airways, maskapai yang menjadi cikal bakal perkembangan penerbangan nasional Indonesia.
Bagi Syamsuddin, menerbangkan pesawat bukan sekadar profesi. Di tengah keterbatasan negara yang baru merdeka, pesawat menjadi urat nadi yang menghubungkan berbagai wilayah, mengangkut logistik, personel, dan harapan bagi republik yang masih berjuang mempertahankan eksistensinya.
Sekembalinya ke Tanah Air pada 1950, ia kembali bertugas sebagai penerbang AURI dengan mengoperasikan pesawat Dakota T-446 dari Lanud Andir, Bandung.
Namun, takdir berkata lain, pada 26 November 1950, bertepatan dengan 16 Shafar 1370 Hijriah, Syamsuddin Noor menerima tugas penerbangan menuju Tasikmalaya.
Menjelang sore hari, sekitar pukul 17.00, pesawat Dakota yang diterbangkannya mengalami gangguan mesin ketika cuaca buruk menyelimuti kawasan Gunung Galunggung.
Dalam situasi kritis, ia berusaha mengendalikan pesawat.
Namun alam berkata lain. Pesawat menghantam dinding cadas di lereng Gunung Galunggung, sekitar 15 kilometer di tenggara Malangbong, Ciawi, Tasikmalaya.
Di sanalah perjalanan hidup seorang putra Banua berakhir.
Usianya baru 26 tahun
Indonesia kehilangan salah satu penerbang terbaiknya, sementara Kalimantan Selatan kehilangan seorang putra yang kelak menjadi kebanggaan daerah.
Tiga hari kemudian, pada 29 November 1950, jenazahnya dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut. Dentuman salvo mengiringi penghormatan terakhir, sementara pesawat Capung milik rekan-rekan penerbang melintas rendah di atas makam sambil menaburkan bunga sebagai salam perpisahan kepada sahabat seperjuangan.
Pengabdian Syamsuddin Noor memang singkat, tetapi jejaknya begitu panjang.
Negara kemudian mengabadikan namanya sebagai Lanud Syamsuddin Noor dan Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru. Penghormatan itu bukan sekadar simbol, melainkan pengingat bahwa Kalimantan Selatan pernah melahirkan seorang patriot yang memilih mengabdi hingga akhir hayat.
Setiap pesawat yang lepas landas dari Banjarbaru hari ini seolah membawa pesan bahwa langit Indonesia pernah dijaga oleh orang-orang seperti Muhammad Syamsuddin Noor, mereka yang terbang bukan untuk mencari kemasyhuran, melainkan demi mempertahankan kehormatan bangsa.
Delapan puluh tahun lebih Indonesia merdeka, dan tujuh puluh delapan tahun sejak gugurnya sang penerbang, kisah Muhammad Syamsuddin Noor tetap relevan untuk dikenang.
Di tengah zaman yang terus berubah, nilai-nilai keberanian, integritas, pengabdian, dan cinta tanah air yang ia wariskan menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa dibangun oleh mereka yang rela memberikan segalanya tanpa berharap balasan.
Nama Syamsuddin Noor kini memang terpampang di gerbang udara Kalimantan Selatan. Namun sesungguhnya, nama itu hidup lebih lama di dalam sejarah, sebagai simbol pengabdian seorang anak Banua yang mengorbankan masa mudanya demi merah putih tetap berkibar di langit Indonesia.(Oleh: Ahmad Khatib)


