BANJARBARU, 20 Agustus 2026 — Penanaman nilai-nilai ke-NU-an dan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE).
Sebanyak 253 mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang berlangsung di Kampus UNUKASE, Banjarbaru. Dalam kegiatan tersebut, Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Kalimantan Selatan, Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I., CMH, hadir sebagai narasumber untuk menyampaikan materi bertajuk “Penanaman Nilai-Nilai Ke-NU-an dan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah.”
Di hadapan mahasiswa baru, Zainal Ilmi menegaskan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an merupakan bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa UNUKASE. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki fondasi keagamaan, kebangsaan, dan akhlak yang kuat.
“Penanaman nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an bagi mahasiswa baru UNUKASE sangat urgen. Sebagai mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama, mereka harus memahami apa itu NU, bagaimana sejarah dan perkembangannya, serta nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangan NU,” ujar Zainal Ilmi.
Ia menjelaskan, terdapat empat pilar utama Ahlussunnah wal Jama'ah yang perlu dipahami dan diamalkan oleh mahasiswa NU, yakni tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal.
Tawassuth mengajarkan sikap moderat, tasamuh menanamkan toleransi, tawazun mengajarkan keseimbangan, sedangkan i'tidal menekankan sikap lurus, adil, dan tegas dalam memegang prinsip.
“Empat nilai ini bukan sekadar istilah yang harus dihafalkan. Tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal harus menjadi sikap hidup mahasiswa dalam menghadapi perbedaan, menyikapi persoalan, membangun relasi sosial, sekaligus menjalankan peran sebagai generasi penerus bangsa,” katanya.
Zainal menambahkan, mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pemahaman keagamaan harus berjalan beriringan dengan kemampuan akademik dan kepedulian terhadap persoalan bangsa.
“Kampus bukan hanya tempat mencetak orang pintar, tetapi juga tempat membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, mampu menghargai perbedaan, dan memiliki tanggung jawab sosial. Nilai-nilai Aswaja harus hadir dalam perilaku sehari-hari, bukan berhenti di ruang kelas,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, PW ISNU Kalimantan Selatan juga menyatakan kesiapan untuk membangun kerja sama dengan UNUKASE bersama badan otonom dan lembaga NU lainnya dalam memperkuat kaderisasi mahasiswa.
Zainal mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan gagasan pelatihan kaderisasi khusus bagi mahasiswa UNUKASE. Materi dan modul pelatihan akan disusun agar dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memahami ke-NU-an sekaligus mengembangkan kapasitas kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.
“PW ISNU Kalimantan Selatan siap berkolaborasi dengan UNUKASE dan badan otonom NU lainnya. Kami ingin kaderisasi ini tidak hanya berbicara tentang organisasi, tetapi juga bagaimana membentuk mahasiswa yang memiliki wawasan keislaman, kebangsaan, intelektual, dan kepemimpinan,” jelasnya.
Menurut Zainal, penguatan kaderisasi juga perlu dipersiapkan sebagai bagian dari kesinambungan antara dunia pendidikan, organisasi kemahasiswaan, dan jaringan sarjana NU di Kalimantan Selatan.
Ia mengungkapkan, ke depan terdapat gagasan agar mahasiswa UNUKASE yang telah menyelesaikan pendidikan dan mengikuti prosesi wisuda dapat langsung menjadi bagian dari keluarga besar ISNU di Kalimantan Selatan.
“Harapannya, ketika mereka menyelesaikan pendidikan, para sarjana UNUKASE tidak berhenti sebagai alumni. Mereka dapat menjadi bagian dari jaringan ISNU dan ikut memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.
Zainal menilai, keberadaan generasi muda yang memiliki kapasitas akademik sekaligus memahami nilai-nilai Aswaja sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan pembangunan bangsa.
“Generasi muda harus mengambil peran dalam pembangunan negeri. Ilmu yang diperoleh di kampus harus diterjemahkan menjadi pengabdian. Kita ingin lahir generasi yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menggerakkan masyarakat dan memberikan manfaat bagi bangsa,” katanya.
PKKMB UNUKASE, Dr. Zainal Ilmi Tekankan Pentingnya Empat Pilar Aswaja bagi Mahasiswa Baru
BANJARBARU, 20 Agustus 2026, — Penanaman nilai-nilai ke-NU-an dan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) menjadi salah satu materi penting dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE).
Sebanyak 253 mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang berlangsung di Kampus UNUKASE, Banjarbaru. Dalam kegiatan tersebut, Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Kalimantan Selatan, Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I., CMH, hadir sebagai narasumber untuk menyampaikan materi bertajuk “Penanaman Nilai-Nilai Ke-NU-an dan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah.”
Di hadapan mahasiswa baru, Zainal Ilmi menegaskan bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an merupakan bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa UNUKASE. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki fondasi keagamaan, kebangsaan, dan akhlak yang kuat.
“Penanaman nilai-nilai Aswaja dan ke-NU-an bagi mahasiswa baru UNUKASE sangat urgen. Sebagai mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama, mereka harus memahami apa itu NU, bagaimana sejarah dan perkembangannya, serta nilai-nilai yang menjadi fondasi perjuangan NU,” ujar Zainal Ilmi.
Ia menjelaskan, terdapat empat pilar utama Ahlussunnah wal Jama'ah yang perlu dipahami dan diamalkan oleh mahasiswa NU, yakni tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal.
Tawassuth mengajarkan sikap moderat, tasamuh menanamkan toleransi, tawazun mengajarkan keseimbangan, sedangkan i'tidal menekankan sikap lurus, adil, dan tegas dalam memegang prinsip.
“Empat nilai ini bukan sekadar istilah yang harus dihafalkan. Tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i'tidal harus menjadi sikap hidup mahasiswa dalam menghadapi perbedaan, menyikapi persoalan, membangun relasi sosial, sekaligus menjalankan peran sebagai generasi penerus bangsa,” katanya.
Zainal menambahkan, mahasiswa sebagai kelompok intelektual muda memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pemahaman keagamaan harus berjalan beriringan dengan kemampuan akademik dan kepedulian terhadap persoalan bangsa.
“Kampus bukan hanya tempat mencetak orang pintar, tetapi juga tempat membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, mampu menghargai perbedaan, dan memiliki tanggung jawab sosial. Nilai-nilai Aswaja harus hadir dalam perilaku sehari-hari, bukan berhenti di ruang kelas,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, PW ISNU Kalimantan Selatan juga menyatakan kesiapan untuk membangun kerja sama dengan UNUKASE bersama badan otonom dan lembaga NU lainnya dalam memperkuat kaderisasi mahasiswa.
Zainal mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan gagasan pelatihan kaderisasi khusus bagi mahasiswa UNUKASE. Materi dan modul pelatihan akan disusun agar dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memahami ke-NU-an sekaligus mengembangkan kapasitas kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.
“PW ISNU Kalimantan Selatan siap berkolaborasi dengan UNUKASE dan badan otonom NU lainnya. Kami ingin kaderisasi ini tidak hanya berbicara tentang organisasi, tetapi juga bagaimana membentuk mahasiswa yang memiliki wawasan keislaman, kebangsaan, intelektual, dan kepemimpinan,” jelasnya.
Menurut Zainal, penguatan kaderisasi juga perlu dipersiapkan sebagai bagian dari kesinambungan antara dunia pendidikan, organisasi kemahasiswaan, dan jaringan sarjana NU di Kalimantan Selatan.
Ia mengungkapkan, ke depan terdapat gagasan agar mahasiswa UNUKASE yang telah menyelesaikan pendidikan dan mengikuti prosesi wisuda dapat langsung menjadi bagian dari keluarga besar ISNU di Kalimantan Selatan.
“Harapannya, ketika mereka menyelesaikan pendidikan, para sarjana UNUKASE tidak berhenti sebagai alumni. Mereka dapat menjadi bagian dari jaringan ISNU dan ikut memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.
Zainal menilai, keberadaan generasi muda yang memiliki kapasitas akademik sekaligus memahami nilai-nilai Aswaja sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan pembangunan bangsa.
“Generasi muda harus mengambil peran dalam pembangunan negeri. Ilmu yang diperoleh di kampus harus diterjemahkan menjadi pengabdian. Kita ingin lahir generasi yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menggerakkan masyarakat dan memberikan manfaat bagi bangsa,” katanya.
Penguatan Ke-NU-an di Lingkungan Perguruan Tinggi
Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I., CMH, merupakan Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Kalimantan Selatan.
Selain aktif dalam kegiatan NU dan lembaga afiliasinya di Kalimantan Selatan, Zainal juga menjalankan peran sebagai Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian (AUPKK) UIN Antasari Banjarmasin.
Aktivitasnya juga mencakup pembinaan ASN, pengembangan kelembagaan, serta penguatan wawasan ke-NU-an di lingkungan perguruan tinggi.
Melalui berbagai aktivitas tersebut, ia mendorong agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang pengembangan intelektual, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki karakter, integritas, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap kehidupan kebangsaan.
Menutup penyampaiannya kepada mahasiswa baru UNUKASE, Zainal mengingatkan bahwa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama bukan semata-mata persoalan identitas organisasi, melainkan juga tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai keilmuan, tradisi, dan akhlak.
“Menjadi bagian keluarga besar Nahdlatul Ulama berarti menjadi penjaga tradisi, ilmu, dan akhlak Ahlussunnah wal Jama'ah.”
Dr. H. Zainal Ilmi, S.Ag., M.Pd.I., CMH, merupakan Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Kalimantan Selatan.
Selain aktif dalam kegiatan NU dan lembaga afiliasinya di Kalimantan Selatan, Zainal juga menjalankan peran sebagai Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian (AUPKK) UIN Antasari Banjarmasin.
Aktivitasnya juga mencakup pembinaan ASN, pengembangan kelembagaan, serta penguatan wawasan ke-NU-an di lingkungan perguruan tinggi.
Melalui berbagai aktivitas tersebut, ia mendorong agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang pengembangan intelektual, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki karakter, integritas, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap kehidupan kebangsaan.
Menutup penyampaiannya kepada mahasiswa baru UNUKASE, Zainal mengingatkan bahwa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama bukan semata-mata persoalan identitas organisasi, melainkan juga tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai keilmuan, tradisi, dan akhlak.
“Menjadi bagian keluarga besar Nahdlatul Ulama berarti menjadi penjaga tradisi, ilmu, dan akhlak Ahlussunnah wal Jama'ah.”
Penulis/editor :Dr.ZI/Wan


