Satu Akar Budaya, DAD Banjarmasin Silaturahmi dengan Tokoh Dayak Bakumpai, Perkuat Rekonsiliasi dan Persatuan Masyarakat Dayak Kalimantan

Lensa Kalimantan
, 7/17/2026 04:15:00 PM WIB Last Updated 2026-07-17T09:16:06Z
---

 


BANJARMASIN ,Kamis, (16/07/26),– Semangat memperkuat persaudaraan dan persatuan masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan terus digaungkan. 


Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Banjarmasin menggelar silaturahmi dengan tokoh adat Dayak Bakumpai beserta pengurus Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) di Banjarmasin sebagai langkah membangun rekonsiliasi, mempererat hubungan kekeluargaan, serta menyatukan visi kebangsaan masyarakat Dayak lintas sub-etnis.


Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi momentum penting untuk memperkuat ikatan budaya sekaligus membangun komunikasi yang lebih erat antar-elemen masyarakat Dayak di Kalimantan Selatan dan wilayah Kalimantan lainnya.


Ketua Dewan Adat Dayak Kota Banjarmasin, John Fezer, mengatakan bahwa silaturahmi tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan langkah awal membangun konsolidasi yang lebih luas demi menjaga persatuan masyarakat Dayak.


"Silaturahmi ini menjadi jembatan untuk menyatukan energi, pemikiran, dan potensi seluruh masyarakat Dayak. Kita ingin menegaskan bahwa seluruh sub-etnis Dayak, termasuk Dayak Bakumpai, adalah satu keluarga besar yang memiliki tanggung jawab bersama menjaga persatuan, budaya, serta kedamaian di Pulau Kalimantan," ujar John Fezer.


Menurutnya, Dayak Bakumpai memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam perkembangan peradaban masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai Barito. Karena itu, keberadaannya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga besar masyarakat Dayak.


"Dayak Bakumpai memiliki nilai sejarah, budaya, dan kontribusi yang sangat besar bagi Kalimantan. Perbedaan sub-etnis bukanlah sekat, melainkan kekayaan yang harus dirawat sebagai kekuatan bersama," tambahnya.


John menegaskan, DAD Kota Banjarmasin berkomitmen membangun sinergi dengan seluruh sub-etnis Dayak di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan agar masyarakat adat mampu menghadapi berbagai tantangan pembangunan tanpa kehilangan identitas budaya.


Sementara itu, Nooradin tokoh adat Dayak Bakumpai bersama jajaran Kerukunan Keluarga Bakumpai (KKB) menyambut positif inisiatif tersebut. Mereka menilai komunikasi dan silaturahmi merupakan fondasi utama dalam menjaga persaudaraan sekaligus memperkuat posisi masyarakat adat di tengah perkembangan zaman.


"Persatuan merupakan modal utama untuk menjaga warisan leluhur. Dengan komunikasi yang baik, kita dapat bersama-sama melestarikan adat istiadat, memperkuat nilai budaya, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah," ungkap Nooradin tokoh Dayak Bakumpai di dampingi Anwari Budayawan IUB.


Dalam diskusi tersebut, kedua belah pihak juga sepakat untuk memperkuat kerja sama melalui berbagai program bersama, mulai dari pelestarian adat dan budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pembinaan generasi muda Dayak, hingga kolaborasi lintas organisasi dan lintas provinsi di Pulau Kalimantan.


Semangat "Urang Banua" yang mengedepankan persaudaraan, gotong royong, dan saling menghormati menjadi nilai utama yang akan terus dijaga dalam setiap agenda bersama.


John Fezer, berharap silaturahmi tersebut menjadi awal lahirnya gerakan persatuan masyarakat Dayak yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.


"Kami ingin seluruh masyarakat Dayak bersatu tanpa membedakan asal sub-etnis. Ketika kita bersatu, budaya akan semakin kuat, masyarakat semakin sejahtera, dan Kalimantan akan semakin damai. Persaudaraan adalah warisan leluhur yang harus terus kita jaga untuk generasi mendatang," tutup John Fezer.(Nawarin_SH)


Komentar

Tampilkan

Terkini