Karhutla Kepung Permukiman Familia Residence, Warga RT 40 Waspadai Api yang Kian Mendekat

Lensa Kalimantan
, 8/24/2026 07:46:00 PM WIB Last Updated 2026-08-24T12:46:53Z
---

BANJARBARU, 24 Agustus 2026 — Kebakaran lahan kosong dengan luasan sekitar 1.000 hektare kembali mengancam permukiman warga di kawasan Perumahan Familia Residence, Jalan Tambak Tarap, Kasturi 2, RT 40/RW 006, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.


Api yang membakar lahan di belakang rumah warga, termasuk di sekitar kediaman Arianto, dilaporkan membesar dan menjalar mendekati kawasan permukiman sekitar pukul 12.00 WITA. Kondisi tersebut diperparah tiupan angin yang membuat kobaran api semakin cepat meluas.


Pantauan di lapangan menunjukkan dua unit mobil pemadam dari BPK Barokah Syamsudin Noor dan mobil BPK Sepakat telah bersiaga melakukan penanganan. Namun, upaya pemadaman sempat menghadapi kendala karena sumber air di sekitar lokasi dalam kondisi terbatas.


Ketua RT 40, Hendri, mengatakan kebakaran lahan di kawasan tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak sekitar sepekan terakhir. Sejumlah titik api bahkan sudah muncul di wilayah RT 40, dengan beberapa lokasi mengalami kondisi cukup parah.


“Kebakaran ini sudah mulai sekitar seminggu yang lalu. Titik api sudah ada di wilayah RT 40, beberapa yang parah itu di belakang dekat kandang ayam dan di ujung pasiran,” ujar Hendri saat ditemui di lokasi.


Menurut Hendri, kobaran api yang paling mengkhawatirkan pada Senin siang berasal dari kawasan sekitar embung atau waduk. Api kemudian merambat hingga menyeberang dari arah Jalan Sempati menuju kawasan permukiman.


“Hari ini yang sedikit parah, awal api dari embung atau waduk dan merambat menuju ke sini. Dari Jalan Sempati menyeberang. Kemarin sore sebenarnya api sudah menyeberang dan sempat dipadamkan di ujung sana, tetapi pagi tadi menjelang siang kembali membesar,” katanya.


Terkendala Sumber Air


Hendri menyebut kemampuan personel dan armada pemadam sebenarnya cukup untuk menangani kobaran api. Namun, kondisi sumber air menjadi persoalan tersendiri dalam proses pemadaman.


“Untuk penanganan dari BPK sebenarnya cukup, Pak. Cuma kita di sini terkendala sumber air. Titik air yang ada di sini sudah kering,” tuturnya.


Kondisi lahan yang sebagian merupakan kawasan gambut juga membuat proses pemadaman tidak mudah. Api dapat menjalar melalui bagian bawah permukaan lahan sehingga titik api berpotensi kembali muncul meskipun kobaran di permukaan telah berhasil dipadamkan.


Hendri mengatakan warga bersama personel Masyarakat Peduli Api (MPA) terus melakukan pemantauan. Kesiapsiagaan juga dilakukan bersama pihak Kelurahan Syamsudin Noor.


“Personel MPA sendiri standby. Di Kelurahan Syamsudin Noor juga siap siaga terus. Alat pemadam dari kelurahan juga ada dan disiapkan,” ujarnya.


Menurut dia, dampak kebakaran dan asap sudah dirasakan warga dalam beberapa pekan terakhir. Sedikitnya 264 kepala keluarga (KK) disebut berada di kawasan yang terdampak, bahkan sebagian warga mengalami dampak cukup serius akibat kepungan asap dan kebakaran lahan.


“Warga yang terdampak ada sekitar 264 KK dan sangat terdampak sekali. Asap dari daerah lain juga sudah dirasakan warga sekitar 15 hari,” kata Hendri.


Api Menjalar dari Sejumlah Titik


Hendri menjelaskan, kobaran api sebelumnya telah melanda kawasan Alkah RW 07, kemudian merambat menuju Alkah RW 06. Pada Senin, sejumlah titik api kembali muncul di kawasan Alkah Santo Yosep.


“Terdampak ini mulai Alkah RW 07 sudah terbakar tadi, kemudian merambat lagi ke Alkah RW 06. Hari ini masuk Alkah Santo Yosep, ada tiga titik api. Yang parah justru komplek kita karena sangat terdampak,” ujarnya.


Ia menambahkan, titik api diduga bermula dari kawasan Jalan Sempati, tepatnya di belakang embung atau waduk. Kondisi lahan gambut membuat api sulit dikendalikan.


“Memang titik apinya dari Jalan Sempati, belakang embung atau waduk. Itu sudah mulai beberapa hari. Karena lahannya gambut, jadi memang susah dikendalikan dan dipadamkan,” katanya.


Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pihak kelurahan sebelumnya telah membentuk MPA dan memberikan pelatihan penanganan kebakaran dengan melibatkan Manggala Agni.


Hendri berharap pemilik lahan kosong yang berada di sekitar permukiman tidak membiarkan lahannya terbengkalai dan dipenuhi semak. Terlebih, menurut dia, sebagian besar pemilik lahan di kawasan tersebut bukan warga setempat.


“Harapan kami kepada pemilik tanah atau lahan kosong yang terbengkalai di daerah ini agar rutin dibersihkan supaya tidak rimbun. Rata-rata pemilik lahan di sini bukan orang sini,” ujarnya.


Warga juga berharap pemerintah dapat memperkuat sarana penanggulangan kebakaran, terutama dengan menyediakan kendaraan pemadam berkapasitas besar.


“Sebagai warga kami selalu standby terus 24 jam. Kami juga berharap pemerintah bisa menyediakan mobil water cannon untuk daerah kita di sini,” kata Hendri.


Warga Cemas Api Mendekati Rumah


Kekhawatiran juga dirasakan warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan lahan terbakar. Ernawati, istri Ariyanto, mengaku sempat panik ketika melihat kobaran api mulai bergerak mendekati bagian belakang rumahnya.


“Sempat saya merasa takut tadi. Sebelumnya, api dari belakang sana sudah sekitar 10 hari atau lebih. Tapi menyasarnya baru hari ini, sampai dekat rumah,” ujar Ernawati.


Ia mengatakan, keberadaan api yang semakin dekat dengan permukiman membuat warga merasa tidak tenang. Menurutnya, diperlukan sistem penanganan yang lebih cepat agar kebakaran tidak terus berulang dan mengancam rumah warga.


“Kami berharap Pemerintah Kota Banjarbaru bisa peduli kepada kami yang tinggal di pinggir hutan ini. Kalau bisa, pemadam ada yang standby setiap hari di sini, sehingga kalau terjadi kebakaran bisa cepat ditangani,” katanya.


Selain ancaman api, Ernawati menyoroti dampak asap terhadap kesehatan warga. Ia berharap ada perhatian lebih terhadap kondisi kesehatan masyarakat, terutama gangguan pernapasan akibat paparan asap kebakaran lahan.


“Penanganan kesehatan warga juga perlu diperhatikan, terutama kesehatan pernapasan agar tidak terkena ISPA. Selama ini belum ada penanganan khusus dari pihak terkait. Harapan saya semuanya dibenahi supaya kami tidak terdampak lagi seperti ini,” ucapnya.


Kebakaran lahan yang berulang di sekitar permukiman tersebut menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api telah membesar. Pembersihan lahan, pemantauan titik rawan, ketersediaan sumber air, kesiapsiagaan personel, serta perlindungan kesehatan warga menjadi bagian penting yang perlu diperkuat secara bersama-sama.


Bagi warga Familia Residence dan kawasan RT 40, ancaman kebakaran bukan lagi sekadar persoalan lahan kosong. Ketika kobaran api mulai mendekati halaman belakang rumah, keselamatan keluarga menjadi taruhan.


Warga pun berharap sinergi pemerintah, petugas pemadam, MPA, pemilik lahan, dan masyarakat dapat diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali mengancam permukiman, terlebih di tengah kondisi lahan kering dan cuaca yang mudah memicu meluasnya kebakaran.(tim_lindonews.com)

Komentar

Tampilkan

Terkini