Tiga Prioritas 100 Hari Rektor ULM Iwan Aflanie: Benahi Tata Kelola, Tingkatkan Mutu Akademik, Relevansi Pendidikan

Lensa Kalimantan
, 10/27/2026 07:36:00 PM WIB Last Updated 2026-10-27T12:36:19Z
---

BANJARMASIN, 27 Oktober 2026,– Kepemimpinan baru Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin mulai diarahkan pada pembenahan internal, peningkatan kualitas akademik, dan penguatan kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat. Tiga agenda strategis tersebut menjadi sorotan dalam audiensi Rektor ULM, Dr. dr. H. Iwan Aflanie, M.Kes., Sp.F., S.H., bersama sejumlah mitra media di Rumah Dinas Rektor ULM, Selasa (27/10/2026).


Pertemuan yang dikoordinasikan Hendra Maulana dari MataMediatama.com itu menjadi ruang dialog mengenai arah pengembangan kampus, tantangan pendidikan tinggi, serta upaya memperkuat peran ULM sebagai perguruan tinggi negeri yang berdaya saing dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kalimantan Selatan.


Sejumlah mitra media hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Lensakalimantan.my.id, Kalseltoday.com, Topikterkini.com, Borneoinfnews.com, dan MataMediatama.com.


Iwan Aflanie resmi dilantik sebagai Rektor ULM periode 2026–2030 pada 5 Oktober 2026. Dalam arah kebijakan awal kepemimpinannya, ia menekankan pentingnya konsolidasi internal, penyempurnaan tata kelola, pengawalan mutu akademik, serta penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.


Berdasarkan arah kebijakan yang telah disampaikan kepada publik, tiga agenda utama yang relevan untuk menjadi perhatian pada 100 hari pertama kepemimpinannya adalah pembenahan tata kelola dan layanan kampus, peningkatan mutu serta relevansi pendidikan, dan penguatan riset serta kolaborasi untuk kepentingan masyarakat.


Pembenahan internal menjadi fondasi pertama bagi kepemimpinan baru ULM. Agenda ini mencakup penguatan koordinasi antarpimpinan, penyempurnaan tata kelola organisasi, serta peningkatan efektivitas pelayanan akademik dan administrasi.


Rektor ULM sebelumnya menegaskan bahwa konsolidasi internal diperlukan untuk memastikan penerapan tata kelola perguruan tinggi yang baik atau good university governance.


“Konsolidasi diperlukan untuk menyempurnakan tata kelola sekaligus memastikan terlaksananya good university governance, Penguatan internal menjadi fondasi penting sebelum ULM melangkah lebih jauh,” Kata Dr.Iwan.


Pembenahan tersebut menjadi penting mengingat pengelolaan universitas tidak hanya berkaitan dengan kebijakan di tingkat pimpinan, tetapi juga menyangkut pelayanan yang dirasakan langsung oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat.


Salah satu tantangan yang turut menjadi perhatian adalah penataan operasional perkuliahan, termasuk persoalan benturan jadwal penggunaan ruang kuliah serta optimalisasi sistem digital kampus.


Pada 17 Oktober 2026 Ia menyoroti rencana pembenahan sistem perkuliahan digital, optimalisasi SIMARI dan SIMS, serta penanganan persoalan operasional kampus yang memengaruhi aktivitas akademik.


Dalam konteks 100 hari pertama, langkah tersebut dapat diarahkan pada pemetaan persoalan prioritas, evaluasi sistem pelayanan, penguatan koordinasi lintas unit, dan penetapan indikator perbaikan yang terukur.


Tujuannya bukan sekadar memperbaiki administrasi, melainkan memastikan bahwa kebijakan universitas benar-benar menghasilkan layanan kampus yang lebih efektif, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika.


Agenda kedua adalah memastikan bahwa pendidikan yang diselenggarakan ULM semakin berkualitas dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, serta tantangan pembangunan daerah.


Mutu akademik menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam arah kebijakan awal Iwan Aflanie. 


Evaluasi program studi, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penyesuaian kompetensi lulusan terhadap kebutuhan zaman menjadi bagian penting dari upaya memperkuat daya saing universitas.


ULM mempertimbangkan evaluasi relevansi program studi, termasuk kemungkinan penggabungan program studi serumpun apabila diperlukan berdasarkan kajian efektivitas dan efisiensi.


Langkah evaluasi tersebut perlu dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa, ketersediaan sumber daya, kualitas dosen, perkembangan keilmuan, serta kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.


Pada tahap awal kepemimpinan, pemetaan mutu akademik dapat menjadi dasar untuk menentukan program perbaikan yang paling mendesak.


Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, ULM juga perlu memperkuat dukungan bagi mahasiswa agar proses pendidikan berlangsung secara inklusif dan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat.


Melalui pendekatan tersebut, peningkatan mutu akademik diharapkan tidak hanya tercermin dalam capaian institusi, tetapi juga dalam kualitas lulusan, relevansi kompetensi, dan manfaat pendidikan bagi pembangunan Kalimantan Selatan.


Agenda ketiga adalah memperkuat peran ULM sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan daerah.


Iwan Aflanie sebelumnya menyampaikan komitmen untuk mengembangkan kolaborasi melalui pendekatan pentahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia kerja, dunia usaha, dan media.


Pendekatan tersebut membuka peluang bagi ULM untuk memperluas kerja sama dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi.


“ULM tidak dapat berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi bagian penting untuk memperluas jejaring dan memastikan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya lagi.


Salah satu isu strategis yang relevan adalah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), persoalan lingkungan yang kembali menjadi perhatian di Kalimantan Selatan.


Di kutip dari pemberitaan antara.com, pada 26 Oktober 2026 mengenai pertemuan pimpinan perguruan tinggi dengan jajaran pemerintah daerah dan kepolisian, ULM disebut telah terlibat dalam kolaborasi penelitian lahan gambut terbakar bersama Polda Kalimantan Selatan.


Pembahasan tersebut juga mengarah pada penguatan koordinasi antarkampus dan pembentukan forum rektor serta crisis center untuk mendukung mitigasi bencana, termasuk karhutla dan banjir.


Rektor ULM menegaskan pentingnya kontribusi perguruan tinggi dalam menghadapi persoalan daerah.


“Perguruan tinggi tidak akan tinggal diam, selalu akan membersamai pemerintah, TNI-Polri maupun unsur masyarakat lainnya agar daerah ini bisa lebih siap menghadapi setiap dinamika termasuk mitigasi bencana,” ungkapnya.


Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa peran universitas tidak berhenti pada pendidikan di ruang kuliah dan publikasi ilmiah. Kapasitas akademisi, peneliti, serta laboratorium kampus juga perlu dioptimalkan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data dan kebutuhan masyarakat.


Dalam 100 hari pertama, penguatan agenda ini dapat dimulai dengan pemetaan riset unggulan, identifikasi kebutuhan daerah, pengembangan kemitraan strategis, dan penyusunan rencana kolaborasi yang memiliki sasaran serta hasil terukur.


Selain isu lingkungan, kerja sama lintas perguruan tinggi di kawasan Borneo dan pengembangan jejaring internasional juga dapat menjadi bagian dari upaya memperluas daya saing ULM.


Tiga agenda tersebut menunjukkan bahwa tantangan awal kepemimpinan Iwan Aflanie bukan hanya mempertahankan capaian universitas, melainkan memastikan bahwa pembenahan internal berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kontribusi nyata kepada masyarakat.


Periode 100 hari pertama dapat menjadi momentum untuk memetakan persoalan, menetapkan skala prioritas, menyusun langkah kerja, dan membangun sistem evaluasi yang transparan.


Keberhasilan agenda awal tersebut nantinya perlu dilihat dari hasil yang dapat dirasakan, seperti membaiknya layanan akademik, meningkatnya koordinasi internal, tersusunnya peta peningkatan mutu program studi, serta berkembangnya kolaborasi riset yang menjawab kebutuhan daerah.


Dengan demikian, ukuran kemajuan tidak hanya terletak pada banyaknya program yang diluncurkan, tetapi juga pada efektivitas pelaksanaan dan manfaat yang dihasilkan.


Dalam audiensi bersama mitra media, Rektor ULM juga menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka antara universitas dan insan pers.


Bagi kami Lensakalimantan.my.id dan mitra media lainnya, komunikasi tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas informasi mengenai kebijakan pendidikan tinggi, perkembangan akademik, hasil penelitian, dan berbagai tantangan yang dihadapi universitas.


Namun, kemitraan yang sehat tetap harus menghormati independensi pers. Media menjalankan fungsi jurnalistik melalui verifikasi informasi, pemberitaan berimbang, serta penyampaian kritik yang konstruktif demi kepentingan publik.


Keterbukaan informasi dan evaluasi publik diharapkan menjadi bagian dari upaya mendorong tata kelola universitas yang semakin baik.


Dengan semangat "kayuh baimbai, waja sampai kaputing", kemajuan ULM membutuhkan kerja bersama seluruh sivitas akademika dan dukungan para pemangku kepentingan.(lala)

Komentar

Tampilkan

Terkini