29 Tahun Jumat Kelabu Banjarmasin: Luka Lama yang Belum Sembuh dan Misteri yang Masih Menggantung

Lensa Kalimantan
, 5/23/2026 07:57:00 AM WIB Last Updated 2026-05-23T01:03:21Z
---

BANJARMASIN,— Kota Banjarmasin hari ini memperingati 29 tahun Tragedi Jumat Kelabu, salah satu peristiwa kemanusiaan paling kelam menjelang runtuhnya rezim Orde Baru pada 23 Mei 1997. 


Sabtu (23/5/2026), peristiwa berdarah 29 tahun yang lalu melumpuhkan seluruh urat nadi kota tersebut masih menyisakan trauma psikologis mendalam lintas generasi serta misteri hukum yang belum sepenuhnya tuntas.


Eskalasi kerusuhan masif ini bermula dari gesekan politik di tengah panasnya putaran terakhir kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 1997. 


Berdasarkan catatan sejarah, massa simpatisan salah satu partai politik melakukan konvoi melintasi Jalan Pangeran Samudera yang berdekatan dengan Masjid Noor. Ruas jalan yang saat itu ditutup demi kekhusyukan jamaah Salat Jumat terganggu oleh raungan knalpot, hingga memicu bentrokan awal dengan warga lokal.


Situasi memburuk dengan cepat setelah terjadi pemadaman aliran listrik total yang membuat suasana kota mencekam. Amarah massal meluas tidak terkendali, menggeser gesekan politik menjadi aksi anarkis berbalut sentimen sosial dan SARA. 


Sepanjang sore hingga malam, gerombolan massa membakar dan merusak fasilitas umum, pusat perbelanjaan, perkantoran, tempat ibadah, hotel, hingga ratusan kendaraan bermotor.



Berdasarkan data investigasi Tim Pencari Fakta Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Komnas HAM, skala kehancuran akibat tragedi ini mencatat angka yang sangat masif. Berikut detail dampak kerugian pasca-peristiwa:


123 orang tewas, sebagian besar korban terjebak api di dalam pusat perbelanjaan yang terbakar.


118 orang luka-luka, warga dan aparat yang menjadi korban bentrokan fisik serta reruntuhan. 179 orang hilang, korban yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya oleh pihak keluarga.


Gedung Mitra Plaza, Menjadi saksi bisu terbesar tempat ratusan jenazah hangus ditemukan, bersama fasilitas lain seperti Junjung Buih Plaza dan Hotel Plaza yang hancur total.


Makam Massal: 


Sebagian besar jenazah yang tidak dapat diidentifikasi akhirnya dimakamkan secara massal di Jalan Jenderal Ahmad Yani KM 22, Landasan Ulin.


Trauma Generasi dan Gerakan Menolak Lupa


Secara psikologis, Tragedi Jumat Kelabu menyisakan luka emosional yang mendalam bagi masyarakat Banjar. Banyak keluarga korban hingga hari ini masih merawat ingatan getir tentang anggota keluarga mereka yang pamit pergi hari itu dan tidak pernah kembali ke rumah.


Menolak lupa atas sejarah kelam tersebut, berbagai elemen mahasiswa, pegiat HAM, dan sejarawan di Kalimantan Selatan terus menyuarakan refleksi damai secara rutin, yang meliputi aksi Teatrikal dan Tabur Bunga: Mahasiswa menggelar mimbar bebas, pembacaan puisi, membawa replika keranda mayat, dan menaburkan bunga mawar di depan gedung eks-Mitra Plaza.


Ziarah Kubur Massal doa bersama langsung di lokasi kuburan massal KM 22 untuk menghormati ratusan korban.


Desakan Kurikulum Sejarah: 


Para sejarawan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan UIN Antasari mendorong agar Tragedi Jumat Kelabu dimasukkan ke dalam buku sejarah nasional agar generasi muda memahami bahaya polarisasi politik ekstrem.



Tuntutan Hukum: 


Komunitas hukum tetap menuntut penuntasan penyelidikan oleh Komnas HAM mengenai dalang utama di balik mobilisasi massa 29 tahun lalu.


Peristiwa ini menjadi refleksi bersama bahwa kedewasaan politik, toleransi, dan keterbukaan atas perbedaan adalah kunci mutlak agar lembaran hitam serupa tidak pernah terulang kembali di masa depan.(@dw)

Komentar

Tampilkan

Terkini