Ribuan Sopir Turun Jalan, Ultimatum 7 Hari untuk Tuntaskan Kelangkaan Solar di Kalsel

Lensa Kalimantan
, 5/13/2026 05:11:00 PM WIB Last Updated 2026-05-13T13:23:06Z
---

BANJARBARU, Rabu, 13 Mei 2026 — Aksi unjuk rasa besar-besaran mengguncang halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan di Banjarbaru, Rabu (13/5/2026). 


Ribuan sopir truk dan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Supir Kalimantan bersama LSM SAKUTU (Sahabat Anti Kecurangan Bersatu) turun ke jalan menuntut pemerintah menindak tegas dugaan mafia BBM subsidi dan praktik pelangsiran solar di sejumlah SPBU di Kalimantan Selatan.


Massa aksi datang 1800-an menggunakan sekitar 600 unit truk serta ratusan armada bus dari berbagai daerah di Kalsel. 


Mereka menggelar aksi damai sambil membentangkan spanduk bernada protes terkait sulitnya memperoleh BBM subsidi jenis biosolar.


Para sopir mengaku selama ini harus mengantre berjam-jam di SPBU, namun kerap tidak mendapatkan jatah biosolar subsidi. Kondisi itu memaksa sebagian sopir membeli solar eceran dengan harga yang jauh lebih mahal, bahkan mencapai Rp20.000 per liter.


“Kami ini bekerja untuk makan keluarga. Tapi sekarang mencari solar subsidi saja susah. Kalau beli eceran, harganya mencekik,” ujar salah satu sopir peserta aksi.


Massa menilai distribusi BBM subsidi tidak tepat sasaran dan diduga banyak disalahgunakan untuk kepentingan industri tertentu. Mereka meminta pemerintah mengembalikan hak BBM subsidi kepada masyarakat, khususnya sopir angkutan dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada biosolar.


Aspirasi massa diterima langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Selatan, M Syarifuddin, yang mewakili Gubernur Kalsel H Muhidin. Sejumlah pejabat teras Pemerintah Provinsi Kalsel juga turut mendampingi pertemuan tersebut.


Namun, para demonstran tetap mendesak agar dapat bertemu langsung dengan Gubernur Kalsel untuk menyampaikan tuntutan mereka secara terbuka.


Ketua LSM SAKUTU, H Aliansyah yang dikenal dengan julukan “Raja Demo”, menyampaikan kritik keras terhadap persoalan kelangkaan BBM yang dinilai terus berulang tanpa penyelesaian nyata.


“Demo hari ini karena kelangkaan BBM. Kami meminta kepada Gubernur Kalsel, Polda Kalsel, dan TNI agar gayung bersambut, sama-sama menuntaskan kelangkaan BBM. Jangan ada lagi kelangkaan solar di Kalimantan Selatan,” tegas H Aliansyah di hadapan massa aksi.


Ia berharap aksi tersebut menjadi momentum pembenahan distribusi BBM subsidi di Kalsel.


“Kami berharap setelah penyampaian aspirasi hari ini tidak ada lagi solar mahal, tidak ada lagi BBM yang diduga dilarikan ke tambang,” ujarnya.


H Aliansyah bahkan memberi ultimatum kepada para pejabat terkait untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut dalam waktu tujuh hari.


“Kalau memang tidak sanggup mengatasi persoalan ini, lebih baik buat surat pernyataan mundur dari jabatan. Kami ingin melihat pejabat benar-benar bekerja, jangan hanya sibuk korupsi, beli mobil mewah, anggaran makan besar, sementara jalan di Kalsel masih rusak dan rakyat sulit cari makan,” katanya disambut sorakan massa.


Dalam aksi tersebut, turut hadir TikTokers viral “Babeh Aldo” yang ikut menyuarakan keresahan para sopir terkait dugaan penimbunan dan penyalahgunaan BBM subsidi.


“Permasalahan kelangkaan BBM ini sebenarnya sudah lama terjadi. Ditambah lagi kelangkaan Dexlite dan solar industri yang harganya terlalu tinggi,” kata Aldo.


Menurutnya, tingginya aktivitas industri pertambangan di Kalimantan Selatan diduga menjadi salah satu penyebab hilangnya biosolar subsidi di pasaran.


“Pertumbuhan ekonomi tambang luar biasa besar. Jadi kami menduga biosolar ini larinya ke industri pertambangan,” ujarnya.


Aldo juga menyinggung dugaan adanya praktik penimbunan BBM yang disebut telah berlangsung lama dan diduga melibatkan oknum tertentu.


“Banyak laporan masuk ke saya soal gudang-gudang penimbunan BBM dari para sopir. Kami sebenarnya ragu kalau pihak kepolisian tidak tahu,” katanya.


Ia meminta Kapolda Kalimantan Selatan segera merespons tuntutan masyarakat dan membongkar praktik penimbunan solar yang merugikan rakyat.


“Saya yakin demi menjaga kondusivitas Banua, Kapolda Kalsel bisa bijaksana membongkar praktik penimbunan solar,” ucapnya.(red)

Komentar

Tampilkan

Terkini