JAKARTA, 17 Agustus 2026,— Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen bangsa untuk mempersiapkan generasi yang mampu menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, Keuangan dan Kepegawaian (AUPKK) Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Dr. H. Zainal Ilmi, M.Pd.I., menilai pembangunan menuju Indonesia Emas tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi maupun bonus demografi.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional. Karena itu, Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) yang diselenggarakan Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) memiliki relevansi strategis dalam mempersiapkan calon pemimpin bangsa menghadapi perubahan zaman.
“Pemantapan nilai-nilai kebangsaan oleh Lemhannas ini sangat perlu dilakukan agar para pemimpin mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan akar jati diri bangsa. Sebab, Indonesia Emas bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi atau bonus demografi,” ujar Zainal Ilmi.
Ia menegaskan, Indonesia Emas 2045 harus dimaknai sebagai cita-cita besar untuk membangun bangsa yang matang secara karakter, kuat secara mental dan memiliki kesiapan kolektif dalam menghadapi berbagai perubahan global.
“Indonesia Emas adalah tentang kematangan karakter, ketahanan mental, dan kesiapan kolektif menghadapi dinamika geopolitik yang kian tak menentu,” katanya.
Zainal Ilmi berpandangan bahwa tantangan Indonesia ke depan akan semakin kompleks. Perubahan geopolitik, perkembangan teknologi yang sangat cepat, disrupsi digital hingga perubahan lanskap sosial menuntut generasi muda memiliki kemampuan adaptasi tanpa kehilangan identitas kebangsaan.
Dalam kondisi tersebut, menurut dia, ketangguhan bangsa tidak dapat diukur hanya dari keunggulan pada satu sektor.
“Sebuah bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang unggul di satu bidang, melainkan bangsa yang tangguh secara menyeluruh. Bangsa yang mampu menyerap guncangan dari luar tanpa kehilangan arah dari dalam,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran kolektif di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi teknologi. Generasi muda, kata dia, akan menghadapi dunia yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya sehingga membutuhkan fondasi nilai yang kuat sebagai kompas dalam menghadapi perubahan.
“Di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan tantangan generasi muda yang menghadapi dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya, kita semua harus mengambil peran sebagai penjaga kesadaran kolektif,” tutur Zainal Ilmi.
Menurutnya, semangat persatuan dalam keberagaman harus terus dirawat sebagai kekuatan fundamental bangsa Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika, kata dia, bukan sekadar semboyan kenegaraan, melainkan modal sosial yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Persatuan dalam kebinekaan, sebagaimana termaktub dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, adalah modal sosial yang tak tergantikan. Kita boleh berbeda dalam latar belakang, pandangan maupun profesi, tetapi harus tetap memiliki tujuan kebangsaan yang sama,” katanya.
Zainal Ilmi menilai ketahanan nasional juga tidak boleh dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah, aparat negara atau kelompok elite semata. Ketahanan bangsa harus dibangun melalui keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
“Ketahanan nasional bukan tugas segelintir elite, melainkan tanggung jawab setiap warga negara. Dari ruang kelas hingga ruang rapat, dari desa hingga istana, perlu ada engagement semua pihak,” tegasnya.
Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Pendidikan, menurutnya, harus menjadi ruang untuk menanamkan kemampuan berpikir kritis sekaligus memperkuat karakter kebangsaan. Generasi muda perlu didorong agar mampu menjadi pelaku perubahan, bukan sekadar menjadi penonton atas perubahan yang terjadi.
“Generasi yang kita siapkan hari ini adalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia pada 2045. Karena itu, mereka harus memiliki kecerdasan, kompetensi, karakter dan wawasan kebangsaan secara bersamaan,” ujarnya.
Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Zainal Ilmi mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat kolaborasi untuk memastikan cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak berhenti sebagai slogan.
Menurut dia, kemajuan Indonesia harus dibangun melalui sinergi pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, masyarakat, generasi muda dan seluruh komponen bangsa.
“Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud apabila seluruh komponen bangsa bergerak bersama. Bukan hanya mengejar kemajuan, tetapi memastikan bahwa kemajuan itu tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan,” pungkasnya.
Semangat kemerdekaan, kata dia, pada akhirnya bukan sekadar mengenang perjuangan para pendahulu, melainkan meneruskan perjuangan tersebut dalam bentuk tanggung jawab mempersiapkan Indonesia yang lebih kuat, berdaulat, maju dan berkarakter menuju satu abad kemerdekaan pada 2045.(@dw)


