Banjarbaru (ANTARA) — Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Kalimantan Selatan resmi menggelar Madrasah Kader Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (MK ISNU) I yang dirangkai dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) II Tahun 2026 di Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin, Banjarbaru, pada 23–25 Januari 2026.
Mengusung tema “Siapkan Cendekiawan NU Transformatif, Adaptif, dan Berdampak”, kegiatan tersebut menjadi momentum strategis konsolidasi intelektual sekaligus penguatan peran sarjana Nahdlatul Ulama (NU) dalam menjawab tantangan zaman di bidang keagamaan, sosial, dan kebangsaan.
Ketua PW ISNU Kalimantan Selatan, Dr. M. Zainal Ilmi, Lc., M.Pd.I., CPM, mengatakan MK ISNU merupakan fondasi penting dalam membentuk kader intelektual NU yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan daya adaptasi terhadap perubahan.
“Melalui MK ISNU dan Muskerwil ini, kita menyiapkan cendekiawan-cendekiawan NU yang transformatif, adaptif, dan berdampak. ISNU harus melahirkan kader yang tidak sekadar bergerak secara operasional, tetapi mampu membawa perubahan seiring perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia menegaskan kaderisasi tersebut merupakan ikhtiar jangka panjang ISNU dalam mencetak generasi unggul yang mampu memberi kontribusi nyata bagi umat, daerah, dan bangsa.
“ISNU harus melahirkan sarjana NU yang bukan hanya pintar, tetapi mampu memberi solusi nyata. Inilah esensi cendekiawan NU yang berdampak,” katanya.
Ketua Umum Pengurus Pusat ISNU, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA, yang membuka kegiatan tersebut, menekankan tanggung jawab strategis ISNU dalam menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah di tengah dinamika global.
“ISNU adalah wadah tempat para sarjana NU berhikmat, beraktualisasi, dan berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Kamaruddin Amin.
Ia menyebut ISNU menghimpun sarjana dari beragam latar belakang keilmuan, mulai dari ilmu agama hingga sains dan teknologi, yang disatukan oleh semangat pengabdian.
“Kami berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan dan mewujudkan Indonesia Emas 2040,” ujarnya.
Terkait Muskerwil II PW ISNU Kalimantan Selatan, Kamaruddin Amin berharap forum tersebut mampu memperkuat soliditas organisasi dan kesamaan visi di seluruh tingkatan.
“Sarjana NU harus adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri ke-NU-an. MK ISNU menjadi kawah candradimuka untuk menjembatani ilmu, nilai, dan pengabdian,” katanya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan turut mengapresiasi pelaksanaan MK ISNU angkatan pertama. Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Kalsel, H. Fahrurazi, S.Pd., M.M., yang mewakili Gubernur Kalsel H. Muhidin, menyebut kegiatan tersebut sebagai langkah strategis dan visioner dalam menyiapkan kader intelektual.
“Madrasah Kader ISNU diharapkan melahirkan sarjana NU yang berkapasitas, berintegritas, dan memiliki komitmen kuat terhadap pengabdian bagi bangsa dan daerah,” kata Fahrurazi.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, Dr. H. Muhammad Tambrin, M.M.Pd., menilai ISNU memiliki posisi penting sebagai mitra strategis pemerintah, khususnya dalam penguatan moderasi beragama.
“ISNU berperan menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan kebangsaan. Pemerintah tentu mendukung kaderisasi intelektual seperti ini,” ujarnya.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus Pusat ISNU, antara lain Sekretaris Umum PP ISNU Wardi Taufik, M.Si., Bendahara Umum Dr. H. Mubasyier Fatah, serta sejumlah pengurus dan tokoh daerah.
MK ISNU I PW ISNU Kalimantan Selatan diikuti 99 peserta yang merupakan delegasi pengurus cabang ISNU dari 13 kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan. Para peserta akan mengikuti rangkaian materi kaderisasi, diskusi strategis, serta perumusan program kerja organisasi melalui Muskerwil II.
Melalui kegiatan ini, PW ISNU Kalimantan Selatan menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran sarjana NU sebagai agen perubahan, penjaga nilai Islam moderat, serta pilar pembangunan daerah dan nasional.
#laila





