Kepala BNN di Hadapan 4.800 Mahasiswa UPNVJ: Bela Negara Sekarang Bukan Angkat Senjata, tapi Tolak Narkoba!

Lensa Kalimantan
, 8/12/2026 10:18:00 AM WIB Last Updated 2026-08-12T03:18:54Z
---

JAKARTA, - Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) mengajak ribuan mahasiswa baru Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta (UPNVJ) untuk mengimplementasikan aksi bela negara secara nyata. Langkah ini dilakukan melalui komitmen kuat menjauhi dan memerangi kejahatan narkotika.


Ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, saat memberikan kuliah umum bertema “Generasi Bersih: Bela Negara Tanpa Narkoba”.


Acara ini dihadiri oleh 4.800 mahasiswa baru dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UPNVJ Tahun 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Senin (10/8/2026).


Suyudi menjelaskan bahwa tema kuliah umum ini sangat selaras dengan identitas UPNVJ sebagai Kampus Bela Negara. Di era modern, konsep bela negara bagi mahasiswa telah bergeser dari perjuangan fisik menjadi perjuangan menjaga moral dan masa depan bangsa.


“Dalam konteks narkotika, bela negara bagi generasi muda bukan lagi tentang mengangkat senjata, melainkan kemampuan untuk secara tegas berkata tidak pada narkotika,” ujar Suyudi di hadapan ribuan mahasiswa.


Menurutnya, semangat bela negara harus diwujudkan melalui keberanian menjaga diri sendiri, membentengi lingkungan terdekat, serta menolak segala bentuk penyalahgunaan zat terlarang.


Dalam paparannya, Kepala BNN RI mengingatkan bahwa tantangan war on drugs saat ini semakin kompleks. 


Narkotika telah berkembang menjadi kejahatan lintas negara (transnasional) yang memanfaatkan kecanggihan teknologi digital, jaringan logistik global, hingga sistem keuangan modern yang samar.


Data BNN menunjukkan, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia pada periode 2023–2025 mencapai 2,11 persen atau setara dengan 4,15 juta penduduk.


Mengkhawatirkannya, kelompok usia 15–24 tahun mencatat angka prevalensi yang cukup tinggi, yaitu sebesar 2,53 persen.


Selain zat konvensional, mahasiswa diminta waspada terhadap kemunculan New Psychoactive Substances (NPS) yang sering disisipkan ke dalam tren gaya hidup, seperti cairan rokok elektrik (vape).


“BNN telah melakukan pengujian terhadap 341 sampel cairan vape dan menemukan sejumlah sampel yang mengandung zat berbahaya, antara lain synthetic cannabinoid, metamfetamin, dan etomidate,” kata Suyudi menjelaskan modus baru tersebut.


Lebih lanjut, Suyudi menekankan bahwa kerusakan akibat narkotika tidak hanya menyasar kesehatan fisik individu, melainkan menjadi ancaman besar bagi agenda nasional dalam mengoptimalkan bonus demografi.


Generasi muda yang produktif dan bebas narkoba merupakan pilar utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Menyelamatkan mahasiswa dari narkoba sama dengan menyelamatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masa depan.

Oleh karena itu, BNN terus memperkuat strategi penanggulangan dari hulu ke hilir melalui lima pilar utama:


   1. Pencegahan

   2. Pemulihan

   3. Pemberdayaan

   4. Ketahanan

   5. Kolaborasi


Langkah konkret yang dilakukan BNN di antaranya adalah penguatan Integrasi Kurikulum Anti-Narkotika (IKAN), peningkatan layanan rehabilitasi, hingga pembentukan ekosistem Kampus Bersinar (Bersih Narkoba).


Di akhir penutupnya, Kepala BNN RI menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk membangun literasi, riset, dan inovasi yang bersih dari narkoba.


Mahasiswa baru UPNVJ didorong untuk tidak sekadar menjadi menara gading, melainkan pelopor pencegahan di lingkungan sosial mereka.


“Kami ingin mengajak seluruh mahasiswa dan civitas akademika untuk dapat menjadi agent of change, agent of prevention, social control, dan future leader,” tutur Suyudi.


Ia berharap 4.800 mahasiswa baru ini mampu menyebarluaskan pesan antinarkotika secara masif kepada keluarga dan teman sebaya guna melindungi generasi bangsa dari kehancuran.


Komentar

Tampilkan

Terkini